
Iskandar Widjaja, 26 tahun, populer setelah muncul dalam iklan kopi di layar televisi. Ia begitu menawan dengan kelincahannya menggerakkan bow (penggesek) biolanya. Tapi ia tak sekadar berakting untuk iklan tersebut. Iskandar benar-benar piawai memainkan alat musik gesek itu.
Nyaris seumur hidup putra Badtriana Widjaja dan Ivan Al-Hadar ini lekat dengan biola. Is—demikian ia biasa disapa—telah mengenal biola sejak umur 4 tahun. Beragam panggung pun telah ia tundukkan. Ia tampil di berbagai simfoni orkestra di Berlin, Sydney, Dubrovnik, Hamburg, Tel Aviv, dan beberapa kota lain di Eropa.
Beragam penghargaan juga diraihnya. Iskandar mengantongi medali emas kompetisi biola internasional Hindemith. Ia juga juara dalam kompetisi nasional Jugend Musiziert di Jerman, dan menjadi yang terbaik dalam memainkan sonata komposer Bach dan Beethoven dalam XXI Concorco Violinistico Internazionale Andrea Postacchini.
Kini, Iskandar sesekali pulang ke Indonesia. Ia pun mulai merambah panggung-panggung di sini. Akhir April lalu, Dian Yuliastuti dan fotografer Jacky Firmansyah dari Tempo menemaninya sepanjang hari.
7.55 WIB
Perumahan Kalibata, Jakarta Selatan
Iskandar tampil segar dengan setelan hem hitam panjang yang tembus pandang dengan paduan motif tenun ikat. Di pundaknya tersandang tas hijau Adidas, sementara biola buatan Franciscus Geissenhof 1793 yang begitu dekat dengannya menggantung di punggung. “Sudah lama menunggu, ya? Maaf.” Ia menyapa. Kami langsung menuju mobil untuk pergi ke RCTI guna tampil di sebuah acara.
Di dalam mobil, Iskandar bermeditasi. Dia meletakkan tangan di atas lutut, kemudian memejamkan mata dan mengatur napas. Beberapa kali tubuhnya mengentak seperti mengumpulkan energi. Tak sampai 15 menit, meditasi pun usai.
Sambil menyantap sepotong sandwich dan apel merah yang disiapkan ibu tirinya, Evi Aryani, Iskandar menjelaskan apa yang baru ia lakukan. Is selalu mengawali dan mengakhiri harinya dengan ritual meditasi. Ibunya yang mengajari dia meditasi sejak usia 8 tahun. “Untuk memfokuskan pikiran,” ujarnya.
Setelah meditasi, biasanya dia mengecek e-mail dan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan hingga agak siang. Sore, ia bebas berlatih. Malam hari, jika tak sibuk, dia pergi keluar dan berinteraksi dengan teman-teman.
11.30
Mal Puri Indah, Jakarta Barat
Kami mampir di mal ini untuk makan siang. Selama perjalanan, Is senang bernyanyi-nyanyi kecil. Suaranya cukup bagus. Dia sempat masuk kompetisi German Idol empat tahun lalu. Tapi dia tak meneruskannya karena ingin fokus ke musik klasik. “Harus hati-hati. Di Eropa, orang bisa meremehkan kesungguhan musik klasik jika tak fokus,” katanya.
Dalam perjalanan pulang ke Kalibata, Is berkisah tentang kedekatannya dengan biola. Dia pernah meninggalkan biolanya saat pelesir dengan kapal pesiar. Tapi dia rupanya tak tahan. Pada saat ada kesempatan turun ke darat, dia langsung meminjam biola orang dan memainkannya. Sekadar melepas kangen dengan biola.
Kini, dia memiliki koleksi tiga biola. Yang tertua berusia 219 tahun, yang tak pernah lama ia tinggalkan. Bahkan biola ini selalu ia letakkan di tempat tidurnya. “Bisa dipeluk. Rasanya seperti ada yang hilang kalau lama pisah, karena biasa untuk berlatih,” kata penggemar Lady Gaga dan Beyonce ini.
Iskandar juga mengaku punya masa kecil yang aneh. Ia sangat terobsesi oleh pemain biola Jepang, Midori, yang gila biola dan berlatih sangat keras hingga kena gangguan psikologis dan saraf.
Iskandar juga gila berlatih. Begitu masuk sekolah musik pada usia 11 tahun, latihan keras dimulai. Kerap ia melewatkan makan. Padahal ibunya tak pernah menekannya untuk berlatih. “Bahkan Mama pernah minta berhenti berlatih barang sejenak,” ujarnya.
Meski telah berlatih keras, ia pernah gagal di kelas pada usia 13 tahun. Tapi dia tak patah semangat, dan tetap giat berlatih. Bahkan ia mengikuti kompetisi nasional yang bergengsi. Seolah menjadi hadiah di usia 17 tahunnya, Is menang di kompetisi tersebut . Sejak itu, dia mendapat bimbingan yang lebih. “Kemenangan ini membuka semua pintu dan kesempatan.”
Mempelajari banyak teknik dari banyak guru dari Jerman, Rusia, dan Amerika Serikat membuatnya makin matang dalam bermain biola. Setelah lulus kuliah di Universitas Seni di Berlin, dua tahun lalu, dia jauh lebih berkembang.
Meski gila berlatih, Is kecil tak jauh berbeda dengan anak-anak lain. Is penggemar majalah Mickey Mouse. Setiap akhir pekan, ia tak pernah absen menonton film Disney. Ia bahkan menggambar sendiri tokoh kartun dengan rambut besar mengembang dan membuatnya seperti majalah.
13.10
Perumahan Kalibata
Ibu dan dua adik tirinya, Jeihan Ivan Al-Hadar dan Aisha Bella Ivan Al-Hadar, baru saja memasuki rumah. Kedua bocah ini pun bermain bola. Beberapa waktu kemudian, dengan rambut acak-acakan, Iskandar bergabung dengan kedua adiknya. Mereka main kartu dan bercanda. Jeihan memencet tuts piano. Iskandar pun kemudian pamer kemampuan di piano, sementara adik-adiknya berebut duduk bersama.
Bagi Is, keluarga adalah sesuatu yang sangat berharga. Ia menikmati kebersamaan keluarga, baik yang di Jerman maupun yang di Indonesia. Hidup di dua negara dan dua budaya membuatnya merasa lengkap. Ia suka keduanya. Saat kecil, ia sempat mengalami gegar budaya saat balik ke Jerman setelah pulang ke Indonesia. Tapi kini ia terbiasa. Ia tinggal di Jerman, tapi sesekali pulang ke Indonesia.
Di Jerman, ia tinggal terpisah dari ibunya di apartemen di Charlottenburg, Berlin bagian barat, meskipun jaraknya tak jauh. Jika kangen masakan ibunya, dia langsung jalan kaki ke rumah ibunya.
Tak lama setelah bercengkerama dengan adik-adiknya, Iskandar masuk kamar. Ibunya mengatakan dia selalu berlatih di kamar agar tak mengganggu. Tak sampai setengah jam, pria bertubuh atletis ini turun bertelanjang dada. “Butuh sedikit keringat,” ujar penyuka parfum Un Jardin Sur Le Nil dan Essence d Orange Vert dari Hermes ini.
Dia pun langsung melakukan sit-up, push-up, dan mengangkat bangku untuk menguatkan lengannya. Aisha Bella pun ikut-ikutan kakaknya. Seusai olahraga ringan, Is bersiap-siap untuk menuju gedung Titan Center di Bintaro, di mana ia akan tampil dalam acara Dining With Iskandar Widjaja Hadar.
18.15
Gedung Titan Center, Bintaro
Is bersiap. Dengan bantuan teknisi yang menyetelkan beberapa lagu, Is mulai menggesekkan biolanya, sekadar berlatih. Dia lalu berganti pakaian dengan yang lebih formal. Acara makan malam yang dihadiri sekitar 25 orang ini berlangsung hingga larut. Tak hanya main biola di akhir sesi, Is juga mendatangi semua meja dan mengobrol bersama.
Iskandar selalu menikmati panggung. Saat di panggung dengan biola adalah masa kebebasannya. Saat memainkan biola, pria yang mengaku tak romantis ini membebaskan diri, mengekspresikan hati dan kemampuan dengan segala ketotalannya. Ia begitu ingin menyentuh perasaan dan hati para penikmat biola dengan apa yang dimainkannya.
Ia pun berterima kasih kepada keluarganya. Kesuksesan yang diraihnya tak lepas dari dukungan keluarga. “Ibuku tentu andil sangat besar untuk perkembanganku,” katanya. Guru-guru yang hebat juga membantunya.
Setelah tamu undangan meninggalkan tempat acara, Is bersiap pulang. Senyumnya merekah. “Bahagia sekali malam ini, ” ujarnya. Di Berlin, dia biasa naik kereta bawah tanah ke studio musik dan manajemennya. Di sana ia tak perlu pusing dan sewot dengan kemacetan. Meski di Jakarta harus membelah kemacetan, dia suka menikmati pemandangan lampu dan gedung-gedung pencakar langit di waktu malam.
(Source: koran.tempo.co)
A good sum up of the different classical eras and their main composers.
Blue - Renaissance
Green - Baroque
Beige - Classical
Pink - Romantic
Anyone who says they don’t like ‘classical’ music is pretty much dismissing 600 years of music all at once. Just sayin’
Manuscript of the opening of Brahms’ String Sextet No. 1 in B-flat, Op. 18 (1860). Brahms revitalized the string sextet as a genre through two large-scale examples; it had lain dormant since Spohr.
(Source: spumonis)
Silence of love, TVC Thai Life Insurance

Why am I different from others?
Why, do you have to be like others?
I’ve asked this question once, many times in my life. I’m not deaf, but there were plenty of times that I felt that I don’t measure up or not worth enough.
You can shine on your own without having to be like the others.
CANON IN D
ALL THE FEELINGS!!!!
♪ lovely concerto folks have been practising here.. ♫
♥





A good sum up of the different classical eras and their main composers. 






